HALAL BI HALAL WARGA NAHDLIYIN JELI 1443 H.

KabarNU, Pengurus Ranting NU Desa Jeli sukses menggelar acara Halal bi halal ini dilaksanakan pada hari Ahad, 28 Syawal 1443 H. atau 29 Mei 2022 M. bertempat di Halaman Panti Asuhan Mamba'ul Hidayah Desa Jeli Kecamatan Karangrejo Kabupaten Tulungagung. Acara ber;langsung lancar, meriah dan penuh keberklahan, dengan sukacita Warga Nahdliyin hadir memenuhi tempat duduk yang disediakan bahkan meluber hingga ke teras rumah warga maupun Kantor Panti Asuhan. Pengurs MWC NU Karangrejo Anshor-Banser, Ketua Ranting NU di sekaitar Desa Jeli juga hadir. Kegiatan makin penuh isi dengan kehadiran KH. Abdul Hakim Mustofa (Ketua Tanfidhiyah PC NU Tulungagung) sebagai Penceeramah. 

 

Acara dimulai dengan pembukaan oleh MC. Sahabat Ali Sodikin (Anggota Anshor Desa Jeli) dilanjutkan menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dan Mars Yaa Ahlal Wathon, antusiasme mustami'in sangat tampak dengan terpadunya suaara yang serempak. dilanjutkan dengan sambutan Ketua Panitia sekaligus Ketua Ranting NU Jeli oleh Ust. Munsif Azhar, S`Pd.I. dalam sambutannya Beliau menyampaikan bahwa pendistribusian Koin Nu telah mencapai 30%, selanjutnya juga menghebuskan motivasi untuk Nahdliyin Desa Jeli untuk terus mengisi kotak infaq dengan penuh keikhlasan. Selain itu juga menekankan bahwa MWC NU Karangrejo punya hajad pembangunan gedung atau kantor, maka akan segera diluncurkan gerakan wakaf Rp. 10.000,- untuk semua warga Nahdliyin. 


 

Agenda dilanjutkan dengan sambutan Ketua MWC NU Karangrejo dalam hal ini disampaikan oleh KH. Asrori, M.Pd.I. Beliau menggarisbawahi, menguatkan atau menambah penekanan atas yang disampaikan oleh Ketua Ranting NU Desa Jeli. 

 

Tibalah Agenda inti yang ditunggu-tunggu yaitu Mauidhoh hasanah yang disampaikan oleh KH. Abdul Hakim Mustofa, Dalam kesempatan spesial ini Beliau memaparkan, "Jika mau mendapatkan perlakuan istimewa dan rezeki yang tak disangka-sangka, maka jagalah kesucian hati. Contoh; Saat tetangga kita dikaruniai Anak, tanpa disuruh tetangga kanan kiri datang untuk jenguk bayi, mereka semua senang, bahkan membawa buah tangan aneka macam, itu karena menghormati bayi yang suci. Contoh lain; Saat kita pulang dari menunaikan ibadah haji, tetangga, kerabat, sahabat jauh maupun dekat datang untuk mengucap selamat, menyambut dan meminta do'a, karena diyakini orang yang pulang haji itu suci kembali dan doanya mustajab. Masih ada lagi contoh, Para Kyai Sepuh yang memiliki kebersihan hati yang selalu terjaga Belaiu didatangi Santri sekian banyak bahkan ribuan dari berbagai wilayah. Mereka hendak menimba ilmu dari Sang Kyai. Dan gak pernah ada ketika orang tua Santri Sowan Kyai itu gak bawa apa-apa. Ini realita betapa tinggi kehormatan dan rezeki datang tak terduga pada seorang yang hatinya terjaga dalam kesucian."

 

Belaiu juga membuka cakrawala kepada Mutami'in bahwa Koin NU ini adalah sebuah bentuk penghargaan NU terhadap peran setiap Warga Nahdliyin sekecil apapun. Dengan Koin NU yang tadinya uang 100 atau 500 bahkan 1.000 rupiah kurang bahkan tak berarti saat sendiri, namun ketika berkumpul dengan teman-temannya dalam satu desa atau kecamatan uang-uang kecil tersebut menjadi berarti, punya nilai, memberi manfaat yang sangat besar karena dikumpulkan dalam jamaah yang benar.

 

Diakhir ceramah beliau mengingatkan kembali dengan pesan Sang Muasis NU KH. Hasyim Asy'ari, "Siapa yang mau mengurusi NU didoakan husnul khotimah sak anak keturunannya. Siapa yang mau ngurusi lo, bukan menjadi pengurus saja. Termasuk Warga Nahdliyin Desa Jeli yang istikomah mengisi Koin NU adalah bentuk nyata dari ikut ngurusi NU."

Acara selesai ditutup dengan do'a oleh KH. Abdul Hakim Mustofa. (PAK. Shoes).

Komentar